Minggu, 24 April 2016

MEJA KAYU UNTUK AYAH BUNDAKU


MEJA KAYU UNTUK AYAH BUNDAKU
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan kakek begitu rapuh, beberapa organ sudah tidak lagi berfungsi, tangan sering bergerak sendiri tak menentu. Apabila meraih atau memegang benda sering lepas. Penglihatannya mulai kabur, dan cara berjalannya pun ringkih.  Kakek benar-benar sudah pikun.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang kakek yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Kadang gelas dan piring pecah jatuh ke lantai.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, " ujar sang Istri. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini." “Aku muak dan jadi hilang selera makan…!!!” Sang Istri semakin marah
Lalu keesokan harinya, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil dari kayu, untuk di letakkan di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring dan gelas, keduanya juga memberikan mangkuk dan gelas dari kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua kejadian ini dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa nak ?". Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan bunda untuk makan saat aku besar nanti." "Meja ini nanti, akan kuletakkan di sudut sana, persis dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.
Jawaban itu kontan saja membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan sangat terpukul. Mereka tiba2 terdiam dan tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, perlahan air mata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka, tersentuh oleh jawaban dari anaknya.
Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang salah dan harus segera diperbaiki. Malam itu juga, mereka segera menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama dengan bahagia.
Saudaraku…!
Beruntung sekali  keluarga yang masih dibersamai orang tua. Orang tua jangan dijadikan beban. Sebaliknya, jadikan lahan untuk berbakti  dan menumpuk pundi-pundi amal. Yang pada akhirnya bisa menghantarkan kita ke syurga
Rasulullah telah bersabda : "Sungguh sangat kasihan sekali, sungguh sangat kasihan sekali dan sungguh sangat kasihan sekali orang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya sampai berumur lanjut, tetapi ia tidak masuk surga". [HR. Muslim]
Semoga Allah memberi taufik kepada diri kita menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua…! Aamiiin…3X YRA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar