Selasa, 26 April 2016

SEPULUH PINTU REJEKI


SEPULUH PINTU REJEKI

1. MEMPERBANYAK ISTIGHFAR.

Allah swt berfirman: “Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Robb mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Qs. Nuh: 10-12)
Al-Qurtubi berkata, “Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu cara diturunkan rezeki dan hujan.
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar (memohon ampun pada Allah), nescaya Allah menggantikan setiap kesempitan menjadi jalan keluar, setiap kesedihan menjadi kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” ( Abu Daud)

2. BERTAKWA KEPADA ALLAH

Allah berfirman: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Qs. Ath-Thalaq: 2-3).
Ibnu Katsir berkata, “Maknanya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan Nya dan meninggalkan apa yang dilarang Nya, nescaya Allah akan memberinya jalan keluar, serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam fikirannya.”

3. BERTAWAKAL KEPADA ALLAH

Nabi Muhammad saw bersabda, “Sungguh, seandainya kalian betawakkal kepada Allah  dengan sebenar-benar tawakkal, nescaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung, mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang  di petang hari dalam keadaan kenyang.” (Ahmad dan Tirmizi)

4. RAJIN BERIBADAH

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepada Ku, nescaya Aku penuhi (hatimu) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi keperluanmu. Jika kalian tidak lakukan yang sedemikian, nescaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak aku penuhi keperluanmu (kepada manusia).” ( Tirmizi, Ahmad, dan Ibnu Majah).

5. HAJI DAN UMRAH

Firman Allah swt, “Lakukanlah haji dan umrah, kerana sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat menghilangkan karat besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur kecuali syurga.” (Ahmad, Tirmizi, dan An-Nasa`i).

6. MENJAGA SILATURAHIM

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknya ia menyambung (tali) silaturahim.” (Bukhari).

7. BANYAK BERSEDEKAH

Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Robb ku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki Nya di antara hamba-hamba Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki Nya)’, dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Qs. Saba`: 39).
Rasulullah saw bersabda dalam hadis Qudsi, “Wahai anak Adam, bersedekahlah, nescaya Aku memberi rezeki kepadamu.” (Abu Daud).

8. MEMBANTU PENUNTUT ILMU

Disebutkan sebuah kisah, “Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah saw. Salah seorang daripadanya mendatangi nabi dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu pada nabi, maka Baginda saw bersabda, “Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan sebab dia.” (Tirmizi, Hakim).

9. MEMBANTU ORANG LEMAH

Rasulullah saw bersabda, “Bantulah orang-orang lemah, kerana kalian diberi rezeki dan ditolong lantaran orang-orang lemah di antara kalian.” (Muslim dan An-Nasa`i).

10. BERHIJRAH

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, nescaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (Qs. An-Nisa`: 100).
Moga kita sama-sama mengambil manfaat dan diberikan kemudahan oleh Allah untuk melakukannya dengan istiqamah…

Minggu, 24 April 2016

MEJA KAYU UNTUK AYAH BUNDAKU


MEJA KAYU UNTUK AYAH BUNDAKU
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan kakek begitu rapuh, beberapa organ sudah tidak lagi berfungsi, tangan sering bergerak sendiri tak menentu. Apabila meraih atau memegang benda sering lepas. Penglihatannya mulai kabur, dan cara berjalannya pun ringkih.  Kakek benar-benar sudah pikun.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang kakek yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Kadang gelas dan piring pecah jatuh ke lantai.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, " ujar sang Istri. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini." “Aku muak dan jadi hilang selera makan…!!!” Sang Istri semakin marah
Lalu keesokan harinya, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil dari kayu, untuk di letakkan di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring dan gelas, keduanya juga memberikan mangkuk dan gelas dari kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua kejadian ini dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa nak ?". Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan bunda untuk makan saat aku besar nanti." "Meja ini nanti, akan kuletakkan di sudut sana, persis dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.
Jawaban itu kontan saja membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan sangat terpukul. Mereka tiba2 terdiam dan tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, perlahan air mata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka, tersentuh oleh jawaban dari anaknya.
Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang salah dan harus segera diperbaiki. Malam itu juga, mereka segera menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama dengan bahagia.
Saudaraku…!
Beruntung sekali  keluarga yang masih dibersamai orang tua. Orang tua jangan dijadikan beban. Sebaliknya, jadikan lahan untuk berbakti  dan menumpuk pundi-pundi amal. Yang pada akhirnya bisa menghantarkan kita ke syurga
Rasulullah telah bersabda : "Sungguh sangat kasihan sekali, sungguh sangat kasihan sekali dan sungguh sangat kasihan sekali orang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satunya sampai berumur lanjut, tetapi ia tidak masuk surga". [HR. Muslim]
Semoga Allah memberi taufik kepada diri kita menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua…! Aamiiin…3X YRA


KEISTIMEWAAN SEDEKAH

KEISTIMEWAAN SEDEKAH
(Menyembuhkan Sakit Dengan Sedekah)
Segala puji hanya milik Allah, kita selalu memujiNya dikala senang maupun susah. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah -yang pernah mengalami sakit dan tertimpa cobaan- , kepada keluarga dan sahabat beliau yang penyabar lagi ridha terhadap taqdir Allah.

Pada zaman ini berbagai penyakit semakin menyebar dan banyak macamnya. Bahkan beberapa penyakit tidak bisa ditangani oleh dokter dan belum ditemukan obatnya, seperti kanker dan semisalnya, meskipun sebenarnya obat penyakit tersebut ada. Allah tidak menciptakan suatu penyakit, melainkan ada obatnya. Namun obat tersebut belum diketahui, karena suatu hikmah tertentu yang dikehendaki oleh Allah.

Mungkin penyebab utama banyaknya penyakit adalah banyaknya kemaksiatan dan dilakukan dengan terang-terangan tanpa malu. Kemaksiatan yang menyebar ditengah masyarakat dapat membinasakan mereka. Allah berfirman yang artinya,

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri" (Surat Asy Sura 30)

Diantara hikmah penyakit yang diderita seorang hamba adalah sebagai ujian dari Allah kepadanya, dunia adalah tempat berseminya berbagai musibah, kesedihan, kepedihan dan penyakit.

Ketika saya melihat orang sakit bergulat dengan rasa sakitnya dan menyaksikan orang yang membutuhkan pertolongan dengan menahan rasa perihnya, mereka telah melakukan berbagai macam ikhtiar namun mereka melewatkan sebab penyembuhan yang hakekatnya dari Allah. Maka saya tergerak menulis untuk semua orang yang sedang sakit, agar rasa duka dan sedihnya lenyap, dan penyakitnya dapat terobati.

Wahai anda yang sedang sakit menahan lara, yang sedang gelisah menanggung duka , yang tertimpa musibah dan bala, Semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu, sebanyak kesedihan yang menimpamu, sebanyak duka nestapa yang kau rasakan.

Penyakitmu telah memutuskan hubunganmu dengan manusia, menggantikan kesehatanmu dengan penderitaan. Orang lain tertawa sedang engkau menangis. Sakitmu tidak kunjung reda, tidurmu tidak nyenyak, engkau berharap kesembuhan walau harus membayar dengan semua yang engkau punya.

Saudaraku yang sedang sakit! Saya tidak ingin memperparah lukamu, namun saya akan memberimu obat mujarab dan membuatmu terlepas dari derita yang bertahun tahun. Obat ini didapat dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,

"Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah"(Dihasankan oleh syaikh Albani dalam Shahihul Jami')

Benar saudaraku, obatnya adalah sedekah dengan niat mencari kesembuhan. Mungkin engkau telah banyak sedekah, namun tidak engkau niatkan agar Allah menyembuhkanmu dari penyakit yang engkau derita. Cobalah sekarang dan hendaknya engkau yakin bahwasanya Allah akan menyembuhkanmu.

Berilah makan orang fakir, atau tanggunglah beban anak yatim, atau wakafkanlah hartamu, atau keluarkanlah sedekah jariahmu. Sungguh sedekah dapat menghilangkan penyakit dan kesulitan, musibah atau cobaan. Mereka dari golongan Allah yang diberi taufik oleh Allah telah mencoba resep ini. Akhirnya mereka mendapatkan obat ruhiyah yang lebih mujarab dari obat jasmani. 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengobati dengan obat ruhiyah sekaligus obat ilahiyah. Para salafush shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai. Jangan kikir untuk dirimu sendiri, jika engkau memang memiliki harta dan kemudahan. Inilah kesempatannya telah datang..!!

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya pada para tabib, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnul Mubarak pun berkata kepadanya, "Pergilah dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh".. (Kisah ini terdapat dalam Shahihut Targhib).

Seorang laki-laki pernah ditimpa penyakit kanker. Ia lalu mencari obat keliling dunia, namun ia tidak mendapatkannya. Ia kemudian bersedekah pada seorang janda yang memiliki anak-anak yatim dan Allah pun menyembuhkannya.

Kisah lain, orang yang mengalami kisah ini menceritakan kepadaku, ia berkisah, "Anak perempuan saya yang masih kecil tertimpa penyakit di tenggorokannya. Saya membawanya ke beberapa rumah sakit. Saya menceritakan penyakitnya kepada banyak dokter, namun tidak ada hasilnya. Dia belum juga sembuh, bahkan sakitnya tambah parah. Hampir saja saya ikut jatuh sakit karena sakit anak perempuan saya yang mengundang iba semua keluarga.

Akhirnya dokter memberinya suntikan untuk mengurangi rasa sakit, hingga kami putus asa dari semuanya kecuali dari rahmat Allah. Hal itu berlangsung sampai datangnya sebuah harapan dan dibukanya pintu kelapangan. Seorang shalih menghubungi saya dan menyampaikan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "Obatilah orang sakit diantara kalian dengan sedekah" (Dihasankan oleh Albani dalam Shahihul Jami') Saya berkata, "Saya telah banyak bersedekah". Ia pun menjawab, "Bersedekahlah kali ini dengan niat untuk kesembuhan anak perempuanmu". Sayapun mengeluarkan sedekah sekedarnya untuk seorang fakir, namun tidak ada perubahan.

Saya kemudian mengabarinya dan ia berkata, "Engkau adalah seorang yang banyak mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah, hendaknya engkau bersedekah sebanding dengan banyaknya hartamu". 

Sayapun pergi pada kesempatan kedua, saya penuhi isi mobil saya dengan beras, ayam dan bahan-bahan sembako dan makanan lainnya dengan menghabiskan uang yang cukup banyak. 

Saya lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mereka senang dengan sedekah saya. 

Demi Allah saya tidak pernah menyangka bahwa setelah saya mengeluarkan sedekah itu anak saya tidak perlu disuntik lagi, anak saya sembuh total walhamdulillah. Saya yakin bahwa faktor (yang menjadi sebab) paling besar yang dapat menyembuhkan penyakit adalah sedekah. Sekarang sudah berlalu tiga tahun, ia tidak merasakan penyakit apapun. Semenjak itu saya banyak mengeluarkan sedekah khususnya berupa wakaf. Setiap saat saya merasakan hidup penuh kenikmatan, keberkahan, dan sehat sejahtera baik pada diri pribadi maupun keluarga saya.

Saya mewasiatkan kepada semua orang sakit agar bersedekah dengan harta mereka yang paling mereka cintai, dan mengeluarkan sedekah terus menerus, niscaya Allah akan menyembuhkannya walaupun hanya sebagian penyakit. Saya yakin kepada Allah dengan apa yang saya ceritakan. Sungguh Allah tidak melalaikan balasan untuk orang yang berbuat baik.

Kisah lainnya, diceritakan oleh pelakunya sendiri. Ia berkata, "Saudara laki-laki saya pernah pergi ke suatu tempat. Ditengah jalan ia berhenti. Sebelumnya ia tidak pernah mengeluh sakit apapun. Pada saat itu tiba-tiba ia jatuh pingsan, seolah-olah peluru menembus kepalanya. Kami mengira ia tertimpa al 'ain (sakit karena pengaruh mata dengki seseorang) atau kanker atau penyempitan pembuluh darah. 

Kami lalu membawanya ke berbagai klinik dan rumah sakit. Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan dan roentgen. Hasilnya, kepalanya normal saja, namun ia mengeluh sakit yang membuatnya tidak bisa berbaring. Juga tidak bisa tidur dan hal ini berlangsung lama. Bahkan jika sakitnya parah, ia tidak bisa bernapas apalagi berbicara.

Saya lalu bertanya kepadanya, "Apakah engkau mempunyai harta yang bisa kami sedekahkan? Semoga Allah menyembuhkanmu". Ia menjawab, "Ada". Lalu ia memberiku kartu ATM dan aku cairkan dari kartu tersebut sekitar tujuh belas juta rupiah. Setelah itu saya menghubungi salah seorang yang shalih yang mengenal beberapa orang fakir, agar ia membagikan uang tersebut kepada mereka. 

Saya bersumpah demi Allah yang maha mulia, saudara saya sembuh dari sakitnya pada hari itu juga, sebelum orang-orang fakir itu menerima harta titipan tersebut. Saya benar-benar yakin bahwa sedekah mempunyai pengaruh yang besar bagi kesembuhan penyakit seseorang. Sekarang sudah berlalu satu tahun, ia sama sekali tidak mengeluhkan sakit di kepalanya lagi, alhamdulillah. Dan saya wasiatkan kepada kaum muslilimin agar mengobati penyakit mereka dengan sedekah.

Berikut kisah lainnya, pelakunya sendiri yang menceritakan kisah ini. Ia berkata, "Anak perempuan saya menderita sakit demam dan panas. Ia tidak mau makan. Saya membawanya ke beberapa klinik, namun panasnya masih tinggi dan keadaannya semakin memburuk. Saya masuk rumah dengan gelisah. Saya bingung apa yang harus saya perbuat. Istri saya berkata, "Kita akan bersedekah untuknya". Saya lalu menghubungi seseorang yang mengenal orang-orang miskin.

Saya berkata kepadanya, "Saya harap anda datang shalat bersama saya di masjid. Ambillah dua puluh kantong beras dan dua puluh kotak ayam di tempat saya, lalu bagikanlah kepada orang-orang yang membutuhkan". Saya bersumpah demi Allah dan saya tidak melebih-lebihkan cerita, lima menit setelah saya menutup telpon, tiba-tiba saya melihat anak saya menggerak-gerakkan kaki dan tangannya, bermain dan melompat diatas tempat tidur. Ia pun makan hingga kenyang dan sembuh total. Ini semua berkat karunia Allah kemudian sebab sedekah. Saya wasiatkan semua orang untuk mengeluarkan sedekah ketika tertimpa penyakit".

Marilah saudaraku, pintu telah terbuka, tanda kesembuhan telah tampak di depanmu. Bersedekahlah dengan sungguh-sungguh dan percayalah kepada Allah. Jangan seperti orang yang melalaikan resep yang mujarab ini, hingga ia tidak mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah lagi. Padahal bertahun-tahun ia menderita sakit dan mondar mandir ke dokter untuk mengobati penyakitnya, dengan merogoh banyak uang dari sakunya.

Jika engkau telah mencoba resep ini dan engkau sembuh, jadilah orang yang selalu menolong orang lain dengan harta dan usahamu. Jangan engkau membatasi diri dengan sedekah untuk dirimu sendiri, namun obatilah penyakit orang-orang yang sakit dari keluargama dengan sedekah. Jika engkau tidak sembuh total, ketahuilah engkau sebenarnya telah disembuhkan walau sedikit. Keluarkan sedekah lagi, perbanyak sedekah semampumu. Jika engkau masih belum sembuh, mungkin Allah memperpanjang sakitmu untuk sebuah hikmah yang dikehendakiNya atau karena kemaksiatan yang menghalangi kesembuhanmu. Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak doa di sepertiga malam terakhir.

Sedangkan bagi anda yang diberikan nikmat sehat oleh Allah, jangan tinggalkan sedekah dengan alasan engkau sehat. Seperti halnya orang yang sakit bisa sembuh maka orang sehatpun bisa sakit. Sebuah pepatah mengatakan, "Mencegah lebih baik dari mengobati".

Apakah engkau akan menunggu penyakit hingga engkau berobat dengan sedekah? Jawablah...! Kalau begitu bersegeralah bersedekah...


BAHAYA HASAD


BAHAYA HASAD
(nasehat utk diri sendiri)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda :

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Jauhilah hasud sebab hasud itu dapat membakar kebaikan layaknya api membakar kayu bakar [HR Abu Daud]
Catatan Alvers
Hasud (Sifat dengki) dan Iman itu bagaikan air dan minyak yang tidak bisa menyatu, bagaikan siang dan malam yang tidak pernah jatuh bersamaan. Malam akan pergi jika siang datang dan begitu sebaliknya”. Dalam Kitab Taysirul Khallaq disebutkan : Hasud adalah mengharap hilangnya suatu kenikmatan yang dimiliki orang lain. Jika mengharap kenikmatan seperti yang didapatkan oleh orang lain dan ia terpacu untuk bekerja keras memperolehnya maka hal ini disebut ghibthah , dari segi hukum ghibthah itu diperbolehkan karena hal ini akan membangkitkan motifasi, Nabi SAW bersabda : 

إن المؤمن يغبط والمنافق يحسد
Orang mu'min memiliki Ghibthah sedangkan orang munafik hasud “ [Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin]
Ada sebuah kisah menarik tentang orang yang hasud yang ditulis oleh seorang ahli satra mesir yang bernama Baha’uddin Al-Absyihi (790 H - 852 H) dalam AL-Mustathraf Fi Kulli Fann Mustathraf : Kisah ini terjadi pada masa Khalifah Al-Mu'tashim Billah Bin Harun Ar-Rasyid (179 H - 227 H) Kholifah ke delapan Abbasiyah. Ada seorang lelaki dari desa (Badui) mengunjungi sang kholifah dan setelah beberapa lama orang badui tadi menjadi orang dekatnya. Melihat keakraban badui ini, Seorang wazir (patih) dengki akan kedudukannya dan berkata "aku harus menyingkirkan orang itu dari khalifah, kalau tidak maka sang khalifah akan menjauh dariku". Mulailah ia berfikir bagaimana cara menyingkirkannya dari istana.
Suatu hari, wazir mengajak badui mampir ke rumahnya dan sengaja menjamunya dengan berbagai hidangan yang penuh dengan bumbu bawang. Usai jamuan, wazir berkata: jangan dekat-dekat kepada khalifah, karena beliau tidak suka bau bawang. Si wazir segera menemui khalifah dan berkata, “Si badui itu, jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tentang Tuan. Ia juga berkata bahwa bau mulut tuan busuk sekali.” Selang beberapa saat, datanglah sang badui menemui khalifah. Sewaktu berjabat tangan dengan khalifah, ia menutup mulutnya dengan lengan bajunya agar khalifah tidak mencium bau mulutnya. Khalifahpun berkata dalam hatinya “Rupanya benar perkataan wazir, ia benar-benar menganggap mulutku bau”. Setelah ia berpamitan, Khalifah berkata, “Serahkanlah surat ini kepada fulan dan suruhlah ia membalasnya.” Surat itu tertutup rapat. Badui tadi keluar membawa surat khalifah.
Di tengah jalan ia bertemu wazir, si pendengki. “Apa yang kamu bawa?” tanyanya. Badui menjawab : Ini Surat khalifah untuk fulan. Saya diperintah untuk mengirimkannya". Si wazir menawarkan diri untuk mengirimkannya dan ia memberi uang sebesar 2000 dinar. Si wazir mengira bahwa surat itu adalah surat pemberian hadiah. Wazirpun menyerahkan surat itu kepada si fulan sesuai amanat khalifah. Lalu si fulan yang ternyata seorang algojo itu langsung membunuhnya. Ternyata dalam surat tersebut tertulis :

إذَا وَصَلَ إِلَيْكَ كِتَابِي هَذَا فَاضْرِبْ رَقَبَةَ حَامِلِهِ 
"Jika suratku ini telah sampai kepadamu, maka bunuhlah orang yang membawanya".
Keesokan harinya, Si badui datang sebagaimana biasa. Khalifah pun terheran-heran melihatnya masih hidup dan bertanya tentang surat itu. Iapun menceritakan kejadian tersebut dan menjelaskan tentang fitnah bau mulut khalifah. Mendengar ceritanya, tahulah khalifah bahwa wazir telah dengki kepada badui. Khalifah akhirnya mengangkat si badui menjadi wazir pengganti wazir yang tewas karena kedengkiannya sendiri. [Mustathraf Fi Kulli Fann Mustathraf] Wallahu A’lam. Semoga kita dijauhkan dari sifat iri dengki yang akan menghanguskan semua pahala ibadah kita. Semoga Allah memberi kita keikhlasan dalam semua ibadah dan perbuatan baik, aamiin.


                                 

ALAM DAN MANUSIA


ALAM DAN MANUSIA
Sesungguhnya suasana dan keadaan alam semesta dipengaruhi oleh amalan manusia.Sedangkan amalan manusia dipengaruhi oleh iman di hatinya. Apabila iman telah lurus dan benar, maka amalan akan menjadi baik, shg ibadah, muamalah, muasyarah akhlak akan menjadi baik pula. Apabila amalan telah baik, maka suasana & keadaan alam semesta akan menjadi baik pula; sehingga iklim, cuaca, udara, daratan & lautan akan berkhidmat pada manusia.
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦
Allah SWT berfirman : “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman & bertaqwa, pastilah Aku (Allah) akan melimpahkan pada mereka berkah dari langit & bumi“ (QS. Al A’raf : 96)

HEBATNYA IBU


HEBATNYA IBU
Makhluk Multitasking Itu Bernama Ibu
Masak sambil gendong bayi, sambil nyusuin, sambil apdet status bbm.... bisaaaa
Telponan sambil main candy crush saga sambil nonton korea (sok2an drakor, asline uttaran).....keciiiilll
Rebus air buat mandi bayi, sementara nunggu air panas beresin tempat tidur yg abis dipake perang2an duo balita, sambil watsapan ngomongin harga cabe, rio haryanto, sby vs jokowi hingga demo supir taksi.... sangguup
Kadang fisiknya masih di depan kaca -sambil nyisir rambut yg 2 hari udah gak disisir- tapi pikiran sudah jauh mengembara meninggalkan si raga....  Habis ini masak nasi, ngucekin popok mumpung bayi tidur, jangan lupa sms tukang galon buat anterin galon, beli pulsa listrik, jemur dan lipet cucian, benerin genteng bocor, nyari kayu bakar di hutan, zzzzz..... dst dst dst.
Saking banyaknya tab pikiran yg dibuka, banyak hal yang menjadi tak optimal. Pas masak nasi, lupa rice cooker gak dicetekin. Ketauannya waktu mau nyuapin bocah, buka magic com, dan menemukan beras yang belom berubah wujud.  Pas itu pula pas bayi udah bangun dari tidur setengah jamnya dan mulai owek2 manja . Diiringi backsound "mah udah laper banget nih", si mama buru2 ke kamar buat ambil bayi sambil bilang "tunggu bentar lagi yaa".... 
Karena buru2 kaki tak sengaja kecocok printilan mainan yang terserak di lantai. Terpaksa berhenti sejenak buat..... marah2 duluk. Wkwk
Dan Semua itu terjadi di satu waktu, bersatu padu menghasilkan orkestra yang sungguh syahdu *mode lebay diaktifkan..... 
Itulah sebabnya ibu2 seharusnya minum aqua 2x lebih banyak dari bapak2 biar gak kaya si cinta yang gagal ngenalin rangga di bandara setelah 14tahun penantian panjangnya karna lupa minum aqua (bukan iklan)
Kemultitaskingan ibu itu gawan bayi (dari sononya-terkait dengan struktur otak) dan merupakan salah satu kelebihan wanita. Hamdalah dikasih anugrah berupa kemampuan multitasking oleh Gusti Allah. Apa jadinya kalo ibu2 gak punya kemampuan itu? Niscaya 24 jam sehari takkan cukup untuk menyelesaikan kerjaan rumah tangga yang segambreng tanpa ujung pangkal itu. 
Meski begitu, multitasking yang terus2an tanpa jeda rentan menghadirkan stress tingkat dewa. Komputer aja perlu direfresh, sama halnya dengan multitasking mom, perlu direfresh juga biar gak gampang eror. Salah satu cara merefreshnya adalah dengan mengoptimalkan peran para bapak, selain piknik dan selfi tentu saja.
Bersabarlah wahai bapak saat malam tiba mendadak istrimu bete dan uring2an. Karena energinya sudah terkuras habis untuk hal2 runsing seperti cerita di atas. Tinggallah lelah yang tersisa. Cukup sediakan telinga untuk mendengar keluh kesahnya dengan sabar. Sediakan bahu lebarmu untuk bersandar. Berilah dia waktu jeda sesaat untuk rehat. Sekali2 kasih surprais istri dengan bikinin indomih telor pake cengek sama es milo, atau beri dia waktu meluruskan punggung sambil mbaca novel kesukaannya dengan tenang tanpa rengekan balita2 itu. Sungguh itu hadiah yang lebih berharga dibanding dikasih LM 5 gram (bo'ooong)
Buat bapak2 yg ldr an (harap dibaca Mr. Anjar Satriono), cobalah jangan hanya nanyain kabar anak2 tok, tanyakan juga kabar ibunya anak2, masih 'waras' kah mah? Ciptakanlah pembicaraan yang berkualitas setelah seharian ia hanya bisa ngobrol dengan balita. Kalo pas pulang, sesekali gantikanlah tugasnya ngurus urusan rumah tangga. Sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat bisa menjadikan harinya bersemangat. Biarkan ia tidur sedikit lebih lama, atau beri kesempatan dia untuk memainkan gitar berdebunya dan meluapkan emosinya melalui nyanyian sumbangnya. *eaaa curcol
Jadi para bapak, bantulah para ibu untuk bisa bermultitasking dengan sehat demi kesehatan jiwa istri, karena sungguh multitasking itu sangat menguras energi dan mengaduk2 emosi.
Copas dari Mbak Evi Dwi Suryani