BAHAYA HASAD
(nasehat utk diri sendiri)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda :
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Jauhilah hasud sebab hasud itu dapat membakar kebaikan layaknya
api membakar kayu bakar [HR Abu Daud]
Catatan Alvers
Hasud (Sifat dengki) dan Iman itu bagaikan air dan minyak yang
tidak bisa menyatu, bagaikan siang dan malam yang tidak pernah jatuh bersamaan.
Malam akan pergi jika siang datang dan begitu sebaliknya”. Dalam Kitab Taysirul
Khallaq disebutkan : Hasud adalah mengharap hilangnya suatu kenikmatan yang
dimiliki orang lain. Jika mengharap kenikmatan seperti yang didapatkan oleh
orang lain dan ia terpacu untuk bekerja keras memperolehnya maka hal ini
disebut ghibthah , dari segi hukum ghibthah itu diperbolehkan karena hal ini
akan membangkitkan motifasi, Nabi SAW bersabda :
إن المؤمن يغبط والمنافق يحسد
Orang mu'min memiliki Ghibthah sedangkan orang munafik hasud “
[Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin]
Ada sebuah kisah menarik tentang orang yang hasud yang ditulis
oleh seorang ahli satra mesir yang bernama Baha’uddin Al-Absyihi (790 H - 852
H) dalam AL-Mustathraf Fi Kulli Fann Mustathraf : Kisah ini terjadi pada masa
Khalifah Al-Mu'tashim Billah Bin Harun Ar-Rasyid (179 H - 227 H) Kholifah ke
delapan Abbasiyah. Ada seorang lelaki dari desa (Badui) mengunjungi sang
kholifah dan setelah beberapa lama orang badui tadi menjadi orang dekatnya.
Melihat keakraban badui ini, Seorang wazir (patih) dengki akan kedudukannya dan
berkata "aku harus menyingkirkan orang itu dari khalifah, kalau tidak maka
sang khalifah akan menjauh dariku". Mulailah ia berfikir bagaimana cara
menyingkirkannya dari istana.
Suatu hari, wazir mengajak badui mampir ke rumahnya dan sengaja
menjamunya dengan berbagai hidangan yang penuh dengan bumbu bawang. Usai
jamuan, wazir berkata: jangan dekat-dekat kepada khalifah, karena beliau tidak
suka bau bawang. Si wazir segera menemui khalifah dan berkata, “Si badui itu,
jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tentang Tuan. Ia juga berkata
bahwa bau mulut tuan busuk sekali.” Selang beberapa saat, datanglah sang badui
menemui khalifah. Sewaktu berjabat tangan dengan khalifah, ia menutup mulutnya
dengan lengan bajunya agar khalifah tidak mencium bau mulutnya. Khalifahpun
berkata dalam hatinya “Rupanya benar perkataan wazir, ia benar-benar menganggap
mulutku bau”. Setelah ia berpamitan, Khalifah berkata, “Serahkanlah surat ini
kepada fulan dan suruhlah ia membalasnya.” Surat itu tertutup rapat. Badui tadi
keluar membawa surat khalifah.
Di tengah jalan ia bertemu wazir, si pendengki. “Apa yang kamu
bawa?” tanyanya. Badui menjawab : Ini Surat khalifah untuk fulan. Saya
diperintah untuk mengirimkannya". Si wazir menawarkan diri untuk
mengirimkannya dan ia memberi uang sebesar 2000 dinar. Si wazir mengira bahwa
surat itu adalah surat pemberian hadiah. Wazirpun menyerahkan surat itu kepada
si fulan sesuai amanat khalifah. Lalu si fulan yang ternyata seorang algojo itu
langsung membunuhnya. Ternyata dalam surat tersebut tertulis :
إذَا وَصَلَ إِلَيْكَ كِتَابِي هَذَا فَاضْرِبْ رَقَبَةَ حَامِلِهِ
"Jika suratku ini telah sampai kepadamu, maka bunuhlah
orang yang membawanya".
Keesokan harinya, Si badui datang sebagaimana biasa. Khalifah
pun terheran-heran melihatnya masih hidup dan bertanya tentang surat itu. Iapun
menceritakan kejadian tersebut dan menjelaskan tentang fitnah bau mulut
khalifah. Mendengar ceritanya, tahulah khalifah bahwa wazir telah dengki kepada
badui. Khalifah akhirnya mengangkat si badui menjadi wazir pengganti wazir yang
tewas karena kedengkiannya sendiri. [Mustathraf Fi Kulli Fann Mustathraf]
Wallahu A’lam. Semoga kita dijauhkan dari sifat iri dengki yang akan
menghanguskan semua pahala ibadah kita. Semoga Allah memberi kita keikhlasan
dalam semua ibadah dan perbuatan baik, aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar